17 Agustus Tahun 45 , itulah hari Kemerdekaan kita...
Itulah lagu nasional yang sering kita dengar dalam menyambut Hari Lahir Bangsa Kita dan selalu saya nyanyikan ketika saya masih duduk di bangku Sekolah dasar ketika menyambut hari lahir Bangsa Indonesia yang besar nan gagah ini.
Isu redenomisasi nilai rupiah yang dilemparkan oleh para dewa penguasa moneter sempat menghentak kalangan publik dan membuat bingung rakyat termasuk saya sendiri, karena masih teringat dengan politik Sanering Tahun 1960 an yang dilaksanakan dalam rangka menyelamatkan krisis keuangan di masa itu.
Penangkapan 3 orang petugas Dinas Kelautan Kepulauan Riau oleh Tentara Negara tetangga menambah hangat situasi politik di masyarakat, gerakan ramai-ramai menghujat Negara Tetangga dan aksi demonstrasi menghiasi beberapa Kota besar ikut menyemarakkan hari Lahir Bangsa Indonesia yang tercinta ini.
65 Tahun umur negeri ini, tentu banyak kisah yang menghiasi perjalanan panjang NKRI. Pergantian tongkat estafet kepemimpinan yang diwarnai dengan Peristiwa berdarah G30 S, dari orde lama menjadi orde baru dan digantikan lagi dengan orde reformasi dan amandemen UUD 1945 setelah lebih dari 50 tahun sejak dibuat oleh para founding father telah mewarnai sejarah panjang perjalanan negeri ini.
Lepasnya Timor Leste dari pangkuan NKRI dan diikuti dengan lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan, Penandatanganan Perjanjian damai antara Pemerintah RI dengan Petinggi GAM, Musibah Tsunami di Aceh, gempa yang silih berganti, krisis moneter yang menghantam Tahun 1997, Lagu Indonesia Raya untuk pertama kali berkumandang di Olimpiade Tahun 1992, Juara Olimpiade Fisika, Matematika, dan segala macam ilmu pengetahuan yang diraih oleh anak-anak negeri ini turut memberi warna lain dari segala macam peristiwa yang telah terjadi di Bumi Indonesia tercinta.
Masih banyak Permasalahan yang harus dihadapi oleh para pemimpin bangsa ini, baik yang berskala global dan skala Nasional. Wacana pemindahan Ibukota dari Jakarta ke daerah lain yang dipicu oleh tingginya tingkat kendaraan di Ibukota, isu amandemen UUD 1945 terkait masa jabatan Presiden, wacana pembangunan Gedung DPR tempat wakil rakyat bersidang, pertentangan antar agama yang kadangkala timbul di beberapa tempat, terorisme, korupsi, suap, pengangguran yang semakin merajalela, tingkat kriminalitas yang dipicu oleh faktor kemiskinan, jajanan anak sekolah yang diberi bahan pengawet makanan seperti formalin, zat pewarna seperti rhodamin dan bahan kimia lainnya yang akan berpengaruh terhadap masa depan anak-anak Indonesia seakan menambah panjang daftar pekerjaan rumah yang harus dihadapi oleh para Pemimpin Bangsa ini.
Terlepas dari banyaknya permasalahan yang menerpa bangsa ini, semoga mental rakyat Indonesia tidak ikut rusak seperti mental para pemimpin yang gemar melakukan praktek KKN dan momen Ramadahan ini semoga mampu membuat kita bangkit dari keterpurukan dan lebih banyak berkarya dalam membangun Bangsa ini.
Dirgahayu Indonesia
Selengkapnya...
detiknews
About Me
- krisindarto
- Saya adalah seorang anak manusia yang sedang mencari arti sebuah kehidupan dan sedang belajar mengambil hikmah dari setiap peristiwa.
Blog Archive
Jumat, 20 Agustus 2010
Dirgahayu Indonesia
Jumat, 08 Januari 2010
bingung...
Perjalanan hidup ibarat sebuah roda pada satu saat berada di bawah sedangkan pada satu saat di atas, namun lika-liku kehidupan merupakan suatu misteri bagi setiap anak adam yang mau tidak mau, suka maupun tidak suka akan berhadapan pada kondisi ketika dia harus memilih diantara 2 pilihan yang sama-sama tidak menguntungkan.
Pilihan yang kita buat tentunya sudah kita pertimbangkan dan kita sadari akan berdampak bagi kita sekarang atau pada suatu saat di masa depan dan kita tentu telah berupaya untuk meminimalkan segala dampak dan hal-hal yang kita perlukan ketika berhadapan dengan dampak tersebut.
Meminjam istilah bank Century "dampak sistemik" merupakan hal yang kita setiap anak adam akan mengalami hal tersebut dalam setiap frase perjalanan hidup. Mulai dari ketika kita beranjak remaja, menikah, memiliki anak, memegang amanah (jabatan), pensiun dan terakhir meninggalkan dunia. Saya teringat istilah salah satu cukilan dari FB Dosen saya bahwa "Urip kuwi mung mampir ngombe" atau bahasa indonesia adalah "hidup di dunia hanyalah sekedar mampir untuk minum.
Kawan, marilah kita merenungkan apa yang telah kita lakukan dan apa yang akan berdampak sistemik bagi kita di kemudian hari.
Selengkapnya...
Selasa, 29 Desember 2009
Kilas Balik
alhamdulillah....
tanpa terasa kita telah melewati 1 tahun (Tahun Baru Muharram) dan sebentar lagi memasuki Tahun Baru Masehi, tentunya sudah banyak peristiwa penting yang terjadi sepanjang tahun 2009
Peristiwa politik, olah raga, seni dan budaya, dan yang terbaru masalah KTT Pemanasan Global di Kopenhagen yang mempertemukan dua kutub yakni negara maju dan negara berkembang.
KTT Kopenhagen merupakan kelanjutan dari penyelenggaraan KTT serupa di Bali yang menghasilkan Bali Road Map. Tentunya harapan bagi para pemerhati lingkungan adalah adanya upaya konkrit dari negara-negara maju dan negara berkembang untuk mengurangi hal-hal yang berpotensi untuk memicu kenaikan suhu permukaan bumi yang menyebabkan melelehnya es di kutub utara dan berdampak pada kenaikan level air laut.
Kenaikan suhu bumi telah mencapai lebih dari 1 derajat dari awal revolusi industri yang terjadi sekitar akhir abad 18 dan awal abad 19 dengan ditemukannya mesin uap oleh James Watt dan didengungkan pertama kali di Negeri Asal Sepakbola yakni Ingrris. Tentunya kita masih ingat adanya fenomena yang menarik terkait dengan adanya revolusi industri dimulai dengan polusi yang meningkat sehingga berdampak hampir musnahnya populasi kupu-kupu berwarna cerah di kawasan industri, kemudian urbanisasi penduduk serta memajukan kawasan-kawasan pinggiran kota yang berdekatan dengan pusat industri serta timbulnya para pengusaha-pengusaha baru yang memegang sektor perekonomian yang selama ini dikuasai kaum bangsawan.
Semua aspek kegiatan tentunya berdampak positif dan negatif. Dampak negatif yang sering timbul dan seakan terlupakan oleh masyarakat pada umumnya adalah dampak terhadap lingkungan. Dampak ini menjadi nyata seiring dengan laju pertumbuhan penduduk dan perkembangan teknologi serta industri yang kerap kali tidak diiringi dengan upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan.
Hal inilah yang dibahas dalam KTT Lingkungan di Kopenhagen, Denmark dimana para pemimpin dunia mencari solusi bersama untuk mencegah pemanasan global yang semakin hari semakin mengancam kehidupan umat manusia. Namun sangat disayangkan dalam KTT ini tidak terdapat sebuah catatan yang sangat mengesankan untuk menyelamatkan bumi. Hal ini terlihat dari keengganan China dan India untuk menurunkan sumber penyebab pemanasan global dari sektor industri, Amerika Serikat dari berbagai sektor kehidupan. Indonesia sebagai salah satu penyumbang pemanasan global dari sektor deforestisasi hutan telah memiliki komitmen untuk menurunkan hal-hal yang memicu pemanasan global.
Upaya Amerika Serikat dengan menggalang dan dan menjanjikan dana sebesar 100 Milyar dolar untuk menyelamatkan bumi, belum cukup untuk menyelamatkan bumi jika melihat semakin besar dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan.
Kita tentunya pernah melihat film waterworld
dimana film tersebut menggambarkan bumi yang hanya berupa lautan yang luas dan harga tanah 1 kaleng pun sangat mahal, jika ego negara-negara maju dan berkembang masih memikirkan upaya untuk memajukan industri tentunya kita hanya menghitung waktu hingga kondisi yang digambarkan dalam film tersebut menjadi kenyataan.
Hal ini sudah mulai diprediksikan oleh para ahli terkait kenaikan permukaan muka air laut di kawasan pinggiran Kota Jakarta yang berdekatan dengan laut akibat melelehnya es di kutub utara serta intrusi air laut yang telah mencapai kawasan tengah Ibukota Jakarta, hal ini sangat mengkhawatirkan apabila dibiarkan maka seluruh kawasan Jakarta akan dilanda kekurangan air bersih (tawar) karena cadangan air tanah telah habis akibat pemakaian yang berlebihan dan intrusi air laut, maka tidak heran jika di beberapa kawasan, air sumur penduduk bukan lagi air tawar melainkan air payau karena telah tercampur dengan air laut. Bukan tidak mungkin 20-50 tahun lagi Ibukota Jakarta akan tenggelam.
Inilah buah simalakama yang harus dihadapi bersama oleh semua pihak, baik pemerintah, swasta dan rakyat dalam menyelamatkan kondisi lingkungan. Deforestisasi hutan yang mencapai 1 - 1,5 juta Ha/Tahun sangat berdampak terhadap pemanasan global, dimana ketiga komponen diatas terlibat di dalamnya. Tradisi membuka hutan untuk persawahan, perubahan fungsi hutan menjadi kawasan sawit serta ilegal logging tentunya menjadi aspek penting yang perlu ditinjau ulang oleh Pemerintah selaku pemegang kebijakan untuk mengelola pemberian izin dan mentertibkan izin yang telah diterbitkan.
Selengkapnya...
Selasa, 03 November 2009
Polemik Tak Berujung
Akhirnya Presiden kita yang tercinta membentuk sebuah tim verifikasi dan klarifikasi untuk mengawal proses penyidikan atas penahanan 2 mantan petinggi KPK. Banyak pihak yang memandang positif dan tidak jarang yang memandang secara negatif atas pembentukan tim yang diketauai oleh Advokat Senior Sdr. Adnan Buyung Nasution.
Namun tim ini tidak memiliki kekuatan hukum untuk memutuskan apakah proses penyidikan hingga penggunaan pasal-pasal dalam KUHP untuk kasus tersebut telah tepat ataukah hanya mengada-ada, mengingat tim ini hanya memiliki kekuatan untuk memberikan rekomendasi kepada Presiden bukannya untuk memutuskan bersalah atau tidak dalam pelaksanaan proses tersebut.
Sudah barang tentu kita tidak lupa dengan segala macam bentuk Tim yang pernah dibentuk, dimulai dari TPF Munir yang hingga akhirnya tidak dapat mengurai benang kusut siapa Otak Pembunuhan Aktivis HAM Munir maupun TPF peristiwa Semanggi yang menewaskan beberapa mahasiswa Trisakti dalam tragedi Semanggi dengan hasil beberapa oknum lapangan yang dikenai hukuman ringan oleh pengadilan militer.
Hal inilah yang patut dicermati dalam menilai seberapa pentingkah peranan Tim Verifikasi dan Klarifikasi yang dibentuk oleh Presiden mampu menyibak sebuah kebenaran dibalik segala macam intrik politik antara 2 lembaga Negara dan kepentingan dibalik penahanan 2 Mantan Petinggi KPK.
Semoga pembentukan tim ini tidak akan menambah panjang daftar kegagalan Tim-tim serupa dalam menguak segala kebenaran yang berada di balik segala macam intrik kepentingan yang melibatkan Para Petinggi Negara.
Selengkapnya...